Fokus

                           

image

Jika dihadapkan pada pilihan membaca atau menulis, tentu aku tanpa pikir panjang lebih memilih membaca. Bukan berarti aku tidak suka menulis, hanya saja Aku lebih merasa nyaman saat merasaanku terbawa alur ceritanya. Ketika membaca tentang seseorang yang implusif, otomatis aku menjadi implusif juga dalam beberapa waku. Atau ketika saat menikmati menjadi gadis manja yang hanya bisa merengek (meskipun itu karaker aku sesungguhnya). suka saja, rasanya seperti memiliki dunia yang amat berwarna, tidak flat seperti televisi 21 inc dirumah tetangga.

Dibandingkan dengan menulis, dengan tipe kepribadian yang aku miliki. Menulis adalah sesuatu yang rumit.  Terlebih saat karakter ‘harus sesuai keinginan’ dan harus-tersusun-rapi-menyebalkan muncul. Menulis satu paragrap saja  membutuhkan coretan berkali-kali. Seperti sekarang, kamu tak akan mau membayangkan berapa lama aku menyelesaikan tulisan ini. Bukan karna harus sempurna, tapi lebih kepada kepalaku yang loncat-loncat memikirkan banyak hal.
Tapi, aku menulis disaat aku ingin menulis, disaat pribadiku yang rumit itu tersisihkan dengan sisi implusifku. Menulis membuatku nyaman, seperti memiliki teman yang mau mendengarkan sekasar dan secerewetnya aku. Saat otakku lebih, eump.. calm. Apupun isilahnya.

Dan ini juga menjadi alasan mengapa aku malas membaca selain teks naratif karana dari satu bahasan kepalaku akan berkelana memikirkan banyak hal. Seperti membaca tentang langit. Aku akan memikirkan ukuran langit, warna langit sampai ke jenis-jenis warna, kenapa warna terbenuk, sejarah warna, dan hal absurd lain. Memang terkadang bagus, tetapi saat aku tak memiliki sarana untuk memenuhi keingin tauanku, atau tak ada orang yang mau menjawab, atau pulsa internetku habis. itu membuat kepalaku sakit, sakit yang sakit, seperti sakit kepala biasa. Dan aku tidak suka rasanya. Serius.

Itu, lihat kan, tak fokus. Seperti anak kecil bukan? Ini menyebalkan, terlebih saat aku harus menyelesaikan tugas akhirku, si karya tulis detergen itu –yang entah karna bagaimana bisa beres juga-. Sedangkan kepalaku terus berfikir tentang bagaimana caranya aku punya uang tanpa kerja sedangkan aku tak memiliki waktu untuk bekerja dan tak memiliki modal untuk usaha. Sedangkan keinginan untuk punya handphone yang rasanya seperti aku lapar tapi gak punya uang buat jajan dan mamah tidak ada dirumah, tidak ada yang bisa dimintai traktir. Rasanya menyakitkan, belum efek asam lambung naik. Lebih menyebalkan daripada nonton sinetron Indonesia yang gak abis-abis dan gak pernah jelas ceritanya. Oke mungkin berlebihan, abaikan saja.

Tapi kita sedang membicarakan apa ya?
Ah! I dont care..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s