Mulut Mom

Image

inastaufiqah

 

Jika aku diberi kesempatan untuk meminta apapun, dengan tanpa berfikir dua kali aku akan menjawab. Memiliki mulut cerdas seorang Mom.

 “Keluar dari kamarmu Er,” Mom mulai lagi. “Sekaraaang!” teriakannya pasti sudah terdengar dialun-alun kota kami, yang asal tahu saja, jaraknya mencapai 5 blok dari rumahku. Aku pikir ibu pasti terlahir dengan pita suara super elastis dan super tebal. Sungguh, aku tak habis pikir mengapa mom mau berteriak sekencang itu, kan bukan salahku jika aku merasa teramat nyaman bergelung dikamar. Bukan salahku juga jika aku merasa tak salah.

Mungkin, yang patut disalahkan itu sekolahku yang tega memberiku 60 jam pelajaran dalam seminggu, ah! Juga ibuku yang tak suka anak paling tampannya beristirat dihari langka ini. Walaupun sekolahku tak tahu diri menyuruh siswanya bertempur 10 jam sehari, semuanya terbayar dengan libur seminggu yang aku dapat diakhir bulan maret. Entahlah kurikulum antah berantah mungkin yang sekolahku anut.

Diantara bulan-bulan yang lain, akhir bulan maret adalah bulan paling berpengaruh pada mom. Bulan april 5 tahun lalu ayah memilih untuk pergi dari rumah kami, aku tak peduli, aku membencinya. Siapa yang mau memiliki ayah suka memukul dan kasar sekali. yang jelas bukan aku. Tapi bagaimanapun ayah tetap laki-laki yang pernah dicintai mom, hipotesisku begitu, jadi mom lebih sensitif diakhir bulan ini. Masa bodohlah, kamarku terlalu nyaman untuk ditinggalkan.

“Apa orientasimu berubah? Sejak kapan laki-laki lebih suka mengurung diri dikamar?” Whatever Mom. “Erooos! I say get out! Now!!” Oh God. Suaranya mengganggu sekali.

Tidur lebih memikat daripada gadis-gadis yang sok imut berkeliaran ditaman memamerkan rambut dan kuku menakutkan mereka. Kimmy bilang itu cool saat kukunya dicat warna merah darah. Demi sepatu snekers favoritku, tren fashion sekarang lebih gila dari pesta halloween tahun lalu. Omong-omong Kimmy adalah tetanggaku, dia asyik sekali diajak bermain catur.

“Keluarlah, bantu mom membersihkan gudang, sudah lama kita tak membersihkannya.” Apa mom gila, tempat itu pasti sudah seperti sarang troll.

“Come on boy..”

“Mom, untuk apa dibersihkan, nanti juga kotor lagi, dan tolong jangan menduplikat kunci kamarku dan masuk seenaknya, bagaimana jika aku sedang telanjang dan mom tiba-tiba masuk..” mom menyebalkan.

“tentu saja mom harus punya kunci, dan untuk apa juga kamu telanjang dikamar?”

“eh? Ya ganti baju, ah. Aku kan butuh privasi. Dan no, membersihkan sarang troll itu, please..” mom memandangku marah, apa aku keterlaluan, tidak kan.. “oh! Apa makanan sudah siap? Aku lapar.”

“untuk apa makan, nanti juga lapar lagi.”

Sialan, mulut mom memang menyebalkan. Oke, sarang troll mungkin tidak terlalu buruk.

 

End

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s