Untitled

images (4)

Bercumbu dengan khayalan? Tidak. Pejaman mata itu nyata, kepala beratnya terasa.. ah! lihat senyuman itu, cantiknyaa..

Aku pasti bermimpi bersandar pada sesuatu. Nyaman sekalii.. jadi ingin tersenyum 

               Routemaster masih melaju dijalur Victoria Station di pusat kota London. Kendaraan wajib Lian untuk mengantarnya kembali ke apartemen. Pantat manisnya sejak 10 menit yang lalu telah nyaman menempati satu bangku pojok belakang di tingkat kedua. Kenyamanan itu yang membuatnya terlelap. Hingga mengabaikan kepala yang terkantuk-kantuk membentur kaca disampingnya. Juga mengabaikan laki-laki yang baru saja duduk disebelahnya.

Lelaki itu, Lay. tau bahwa Ia tidak akan memiliki teman bicara untuk perjalanan kali ini, Lay mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tas ranselnya. Memilih merekam dirinya sendiri dan mengunduhnya seperti yang sering dia lakukan.

Lay mulai melambai-lambai didepan kamera, dengan bibir mengucap hallo tanpa suara. selanjutnya kamera diarahkan pada penumpang lain dalam bus. Hanya ada seorang kakek tua dibarisan tengah serta pasangan yang sibuk dengan urusan mereka. Merasa tak ada gambar yang cukup bagus, sekarang layar kamera menampilkan jajaran gedung khas eropa, terlihat pula barisan cafe dengan payung garis-garis biru yang buka di sepanjang trotoar. Tangannya berputar perlahan, merekam dari jendela agak di depan ke samping. Sampai kamera dipenuhi gambar wanita, dan terhenti.

Lay merasa menemukan hal yang menarik pada wajah kantuk itu, dengan rambut yang terjepit kesamping, memudahkan Lay untuk melihat jelas wajahnya. Kamera yang dipegangnya masih menjadikan wajah wanita itu, Lian, sebagai fokus utama. Heran mengapa sejak duduk pandangannya tak sampai pada wajah menarik ini, yang jelas-jelas duduk disampingnya. Mungkin kerlingan matanya tadi terlalu singkat untuk menyadari sesuatu diwajah wanita ini. Lay terus menyorot Lian sebagai fokus utama, hingga tau-tau erangan terdengar dari bibir kecil Lian. Guncangan bus membuat kepalanya terbentur cukup keras, tapi tak cukup keras untuk mengembalikan kesadaran Lian. Setelah erangan itu, kepalanya hanya berpindah menjadi ke arah kiri, ke pundak pemegang kamera.

Gerakan Lian tentu tak luput dari kamera Lay, juga sekarang tubuhnya yang mendadak kaku salah tingkah.

Hanya sekejap. Karna sekarang tangan kirinya kembali terulur kedepan mengarahkan kamera pada dirinya sendiri dan Lian.

“Bercumbu dengan khayalan kah? Tidak. Pejaman mata itu nyata, kepala beratnya terasa.. ah! lihat senyuman itu, cantiknyaa..” seperti itu suaranya saat kamera tetap dengan posisi tadi dan kepala Lay yang menyamping memandang Lian.

Tapi Lian tetap tak bergerak, malah semakin mendekatkan badannya mencari posisi ternyaman.

“Aku pasti bermimpi bersandar pada sesuatu. Nyaman sekalii.. jadi ingin tersenyum”. Begitu akalnya berguman diiringi senyuman manis.

Dan waktu berlalu, mereka enggan merubah posisi masing-masing. Menikmati yang terjadi dalam satu perjalanan singkat mereka. Rasa mimpi atau nyata. Jelas dan tidak jelas. Siapa yang peduli. Mereka toh menikmati ini.

 

-END-

    iya iya, ini geje dan aneh dan ga enak dibaca,

    tapi gimana lagi, ditunggu kritikannya aja, pedes banget juga its oke.

5 thoughts on “Untitled

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s